Pages

Wednesday, November 27, 2013

CELANA DALAM BESI



CELANA DALAM BESI

 “Ahhh sumpek!! Huhuuuu!!!”
“Set dah! Kenapa si lu uring-uringan udah kaya orang hamil!” protes seorang sahabat di sampingnya.
“Ahhh!!! Yuuu!! Hu huhuhuuuu!!! Gw bingung pokoknya!” Gadis mungil itu menarik-narik tubuh sahabatnya, seakan-akan minta diperhatikan atau entah mengapa aku juga bingung. Sahabatnya pasrah tapi tidak menghiraukan.
“Bodo amat lah, guling-guling di jalan juga ga bakal gw tolong” sahabat itu menggerutu kesal.
“Astagfirullahhhhhhh!!! Biru! Bego lu!” matanya membelalak melihat gadis yang dipanggilnya terguling guling di jalan. Tepatnya di tengah jalan di taman kota ini.
“Set dah! Mimpi apa gw punya temen kaya lu!” Ia membopong Biru di pundaknya yang kerempeng. Tak dihiraukannya pandangan orang-orang pada mereka berdua yang dianggap berada di atas kenormalan.
“YUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!”
& & &
“BUKK!!”
“Aduhhh!!! Duhh!!!” Nyeri dirasakan di sekujur tubuhnya. Dipandangnya lelaki yang melakukan itu padanya dengan sedikit ketakutan.
“Awas ya lu kaya begitu lagi!!”
“Ahhhh Yuu mah sakit tau. Pelan-pelan kenapa, dengan penuh kehangatan.” Belum hilang rasa sakit karena terhempas terlalu kencang. Kepalanya didorong ke belakang dengan kerasnya.
“Yuu!!!! Jangan tinggalin Biru!!””
“Lepasin ga lu!!!” Tubuh Biru menggelayut di kaki sahabatnya. Yuu berusaha melepaskan rengkuhan erat Biru. Tapi sama sekali tak berhasil karena Biru adalah jelmaan lelaki bertubuh perempuan alias bertenaga kelelak-lakian.
“Ihhh, kalian berdua apa-apaan si, mainannya kaya anak kecil begitu?”
“Pengemis ni ma!” Biru tersenyum tak bersalah pada mama yang kebingungan melihat anaknya menyeret sahabatnya selayaknya menyeret hewan peliharaan.
“Ya Allah, lu kenapa si? Dari tadi bikin masalah aja ni?” Bayu menghempaskan diri, menyerah tak berdaya di sofa setelah berusaha menyeret hewan peliharaan selama 1 meter jauhnya.
“Lu ga tahu penderitaan gw selama ini!! Dan ga bakal pernah mengerti!”
”Ape si lu lebay amat” Cetus Bayu yang tak peduli pada isak Biru di kakinya
“Lu emang ga peduli sama gw, gw uda kaya begini tapi lu .. apa huh!” Biru melepaskan genggamannya. Ia termenung seakan meratapi nasibnya yang benar-benar hancur. Ia terdiam lama tak menghiraukan Bayu yang percaya tak percaya akan keluhannya.
“Heh, lu serius?”
“Ha!!! Bayu ketipu!! Ye ye ye! Ketipu!!” teriak seseorang di dalam imaginasinya, namun kenyataannya … Biru masih tertunduk lesu di samping kaki nya.
“Lu kenapa, Biru?” Tak ada jawaban
“Woi? Cerita ke gw, gw kan sahabat lu. Siapa tahu gw bisa bantu.” Tetap tak ada respon
“Biru?” Bayu mengangkat wajah sahabatnya dengan lembut
“Kenapa, ayo cerita..”
“Tapi janji, jangan bilang siapapun” Bayu berharap ia tak tertawa melihat wajah Biru yang memelas lucu. Ia hanya mengangguk mantap.
“Lu nyium sesuatu yang ga sedap ga?”
“Ha?” Bayu sama sekali tak mengerti kata-kata yang akhirnya keluar dari sahabatnya
“Dari tadi lu nyium sesuatu ga, kaya tape gitu?”
“Ha? Tape?” Respon yang sangat lemot dan sangat lamban
“Nyium ga, ihhhhh sebel gw!!!”
“Aduh!! Ga usa pake nabok dong. Gw kan lagi mikir maksud lu itu apaan!” Bayu meringis kesakitan menerima hentakan maut dari wanita bertangan besi itu. Hidungnya mulai mengembang kempis tak karuan, mendeteksi bau yang dimaksud Biru.
“Tape apa si. Ada juga kaya bau busuk!” Bayu menyahut cuek
“AHHHHH!!!”
“Buset dah ni orang dari tadi! Kenapa si lu pake teriak segala!” kekagetan Bayu tak sebanding dengan kekagetannya beberapa menit kemudian saat melihat sahabatnya mulai menangis
“Eh eh, lu kenapa? Lu becanda kan?”Biru tak bergeming. Tatapannya kosong
“Lu kenapa hei. Bilang sama gw” Bayu memaksa wajah Biru untuk menatap matanya. Biru menatapnya dan berusaha mengucapkan sesuatu
“Aduh gw ga ngerti lagi. Kencengan dikit dong”
“HUAAAHUAAA HUUUUHUUU HUUU”
“Astagfirullah bocah! Bukan nangisnya yang kenceng, tapi lu cerita masalah lu yang agak kencengan dikit” Biru menyembunyikan tawanya walau ia masih menangis
“Woooo!! Cepet cerita!”
“Begini … sebenenarnya bau tape atau bau busuk itu dari bla bla bla” Biru bercerita sangat lengkap tanpa jeda
“Astagfirullah kok bisa si!?” Bayu sangat kaget mendengar cerita sahabatnya
“Karena aku bla bla bla”
“Lalu bagaimana dong solusinya?” Biru tertunduk lesu
“Ke dokter?” Tanya Biru yang hanya dijawab dengan gelengan lemah sang sahabat
Mereka memecahkan masalah itu dengan keheningan tanpa gerak dan kata. Dan untuk pertama kalinya mereka termenung lama

&&&

“Sssttt sssstttt” Sebuah suara memanggil seorang gadis yang sedang berjalan di lorong sekolah
“ha?”
“Sini ..” Panggil lelaki misterius itu. Ragu ragu sang gadis mendekatinya. Matanya membelalak saat tahu identitas lelaki misterius itu
“Ga usa pake meluk segala. Emang gw guling” Kata lelaki itu mendorong tubuh sang gadis menjauh darinya
“Nihhh dipake”
“Buat apa?!!” hampir saja sang gadis menjatuhkan barang yang diberi lelaki misterius
“Uda pake. Bisa nyelesain masalah lu ko” sang gadis mengernyit
“Emang iya?”
“Percaya sama gw” Bayu berlalu. Biru terdiam melihat test pack yang ia genggam

&&&

“Baik anak anak. Saatnya pulang. Terima kkasih atas perhatinnya. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.” Sang Gadis itu menyelesaikan tugasnya dengan baik sebagai ketua
“Diiket dulu tali sepatunya ketua kelas, lepas tu.” Tegur sang guru pada sang gadis yang ingin menyalaminya
“Hati hati pulangnya ya. Kalian bareng terus, kompak banget dua siswa ibu ini”
“Iya kan dia pembantu saya bu” Jawab Bayu asal
“Makasi ya bu. Pulang ya bu. Asslamualaikum” pamit Biru pada gurunya
“Bu? Kenceng amat salamannya?” Hening tak ada jawaban
“Bu?” Sang guru yang masih menggenggam erat tangan Bayu sama sekali tidak mengindahkan panggilan Bayu
“Bu? Bu? Biru sakit ni. BU?!” Biru meringis kesakitan
“BUUUU??!!!”Mata gurunya bergerak tajam menatap Biru
“Itu milik kamu?” Tanyanya menunjuk sebuah benda di dekat kaki Biru  
Biru terdiam kaku. Wajah Bayu tak kalah pucat dengan wajah Biru. Mereka sadar hari akan terasa semakin panjang dan tengang
&&&

“Apa sih maksud kamu? Dari tadi kalian berdua bicara bersamaan. Ibu tidak mengerti. Ibu butuh cerita jujur. Jangan jangan ini hanya taktik kalian untuk mengalihkan masalah?” Sang guru sudah pusing saat melihat tespec berhasil negative di hadapannya. Suasana sangat tegang. Kepala sekolah, ibu guru, Bayu dan Biru terperangkat dalam kantor yang terasa sangat panas meskipun AC sudah menunjukkan suhu 16C
“Tapi itu sudah jujur bu” mereka berdua menjawab bersamaan
“Iya ibu percaya. Tapi ibu tidak mengerti dengan kata kata yang kalian ucapkan. Ucapkan dengan jelas. Bahasa manusia”
“Tapi buuu”
“BRAKKKK!!!! K-A-T-A-K-A-N  D-E-N-G-A-N  J-U-J-U-R” Keduanya terdiam pucat pasi. Dengan ketakutan Biru mendekati tubuh gurunya
“Begini bu.. Bla bla bla”
Mata ibu guru terbelalak spontan menatap Bayu
“Lalu saya bla bla bla”
Mulut ibu guru ternganga lebar
“Maka dari itu Bayu bla bla bla”
Kepala ibu guru menunduk lemas
“Kamu ikut ibu sebentar” Ditariknya tangan Biru kencang dan kasar. Bayu hanya tertunduk lesu menerima pandangan tajam dari kepala sekolah
“Apa yang sudah kalian berdua lakukan. Kalian baru anak SMP, tapi sudah berani beraninya melakukan hal yang sangat sangat sangat…..” Sang Kepala Sekolah menunduk lesu
“YA ALLAH YA GUSTI, cobaan apa yang Engkau berikan pada kami” Kepala Sekolah memijit mijit kepalanya yang terasa terbakar. Bayu pun ingin menangis,, tapi ia tak mengerti apa yang harus ia tangisi
“Kamu harus tahu Bayu, kalian bisa saya keluarkan dari sini karena perbuatan kalian itu”
“Bapak ..” Ibu guru menyela Kepala Sekolah yang sedang menunjuk Bayu
“Bagaimana ibu. Apakah benar Biru hamil? Apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Bagaimana kita bisa menutup kasus ini dari pembicaraan masyarakat? Mau ditaruh mana muka saya sebagai kepala sekolah untuk ujian yang sangat besar ini? Bisa bisa nama sekolah kita akan tercoreng dan kita akan kehilangan banyak calon murid baru. Bagaimana dengan ..”
“Bapak ..” Sela ibu guru menepuk lengan Sang Kepala Sekolah
“Biru tidak hamil”
“Bagaimana ibu tahu, Ibu bukan dokt..”
“Tapi saya seorang wanita ..” Sela ibu guru dengan senyum kemenangan
“Baiklah, kalau begitu jelaskan dengan jelas kepada saya” Kepala Sekolah membalikkan badan seolah ingin menutupi kemaluannya
“Biru hanya keputihan akut karena jarang mengganti celana dalamnya. Sehingga celana dalamnya sobek karena keputihan tersebut. Keputihan tersebut juga menimbulkan bau tidak sedap. Maka dari itu Bayu mencium bau tersebut jika di dekat Biru”
Kepala Sekolah menganga menatap Biru
“Apa betul Biru?” Biru mengangguk malu
“Lalu kenapa kamu pakai test pack segala?”
“Kami kira bisa menyembuhkan Biru pak” Jawab Bayu cepat
“Besok akan bapak belikan celana dalam besi supaya celana dalam kamu tidak robek lagi”
Ibu guru hanya membelalakkan matanya
“Hah, Solusi yang aneh”

Wednesday, March 6, 2013

Pentingkah Jika Aku Tak Perawan



Pentingkah Jika Aku Tidak Perawan
 “Aku sudah tidak perawan…” Ia tersenyum saat kata-kata itu terucap dari bibirnya. Kami terdiam dan  masih saling memandang. Aku tidak tahu harus merespon seperti apa dan berkata apa. Mungkin kata-kata terbaik saat ini hanyalah, diam.
“Dengan kondisiku saat ini, kamu boleh meninggalkanku. Aku menger…” Kugenggam tangannya sebelum kalimat itu selesai.
“Perawan atau tidak… itu bukan tolak ukur apakah kau layak diterima atau tidak. Tapi ini…” Kusentuh dadanya. Virgy berangsut memelukku.
# # #
“Wise, cepat bantu mama! Sebentar lagi kita berangkat.”
“Iyaaaaa mama cuanthek” Dengan segera aku muncul di hadapannya dengan senyuman merajuk.
“Kamu itu, sudah tahu hari ini hari penting untuk kakakmu. Tapi masih saja sibuk dengan urusanmu sendiri.” Mama masih mengomel walau masih tetap sibuk menata semua barang untuk sang tuan rumah. Kelebihan emak-emak zaman sekarang. Di saat mengomel, ia masih saja bisa konsentrasi pada pekerjaan yang dilakukannya. Aku merengut mendengar omelan mama.
“Yah mama kok gitu. Urusan Wise kan juga jelas ma. Untuk kuliah. Tidak pakai main. TIdak pakai dugem. Woooo” Mama tertawa melihat bibirku yang semakin maju
“Bibirnya gak usah pake monyong gitu dongggg.”
“Mamaaaaa!!!!!!!!!!”
Kami berangkat, menuju rumah… yang sepertinya tak asing untukku. Rumah…
“Silahkan masuk, calon besan. Mari mari. Kami sudah tidak sabar menunggu tamu spesial” Sambut sang tuan rumah.
“Ah bisa saja. Wise. Ayo dong jangan diam begitu”
Aku masih melongo melihat sosok sang tuan rumah. Semua percakapan mengalir ringan diiringi tawa kegembiraan. Tapi semua tak terdengar di telingaku. Indraku terasa mati. Seperti mumi hidup.
“Wise, kaget ya” Tegur seseorang yang sangat kukenal.
“Maaf, mungkin malam  ini adalah saat yang paling tepat” Lanjut wanita itu seraya menunduk
“Ah kalian ini. Kemarin atau sekarang… itu tidak penting. Dengan pernikahan ini, Dua keluarga akan menjadi satu. Apalagi kalian berdua sudah bersahabat lama. Iya kan Virgy?” Ucap mama. Ia tersenyum menunduk. Tapi aku… sangat gelisah. Keringat dingin membasahi telapak tanganku. Aku tidak rela ia mendapatkan pria sebaik kakakku. Walaupun itu…sahabatku sendiri.
Satu jam, dua jam berlalu begitu lama. Kamar mandi semakin sering kukunjungi. Terus kutatap wajah mereka, mempertimbangkan semua atas keputusanku.
“Baiklah. Kami dari keluarga ingin melamar putri semata wayang keluarga ini, Virgy Soecipto. Apakah keluarga ini setuju dan menerima lamaran dari putra kami, Dewa Dhruva?
“Saya tidak setuju.”
Semua diam, memandangku. Terpaku atas kalimatku.
“Saya tidak rela dan tidak iklas jika kakak tersayang keluarga kami mendapatkan putri yang  ternoda keperawanannya.”
“Wise!!!” Mama berteriak kencang. Nafasnya menahan amarah. Aku mengerti itu. Aku mengerti dengan kemarahan semua orang di ruangan ini. Tapi aku tidak dapat menahan kemarahanku jika kakak iparku memiliki masa lalu seperti itu. Dan itu tidak layak untuk kakakku.
“Semua ucapan beresiko, Wise. Bisa kamu jelaskan perkataanmu tadi?” Ayah Virgy bersuara sangat berat. Aku masih terdiam. Memandang lantai yang tidak akan memberi solusi apapun.
“Ayah...” Sebuah suara memecah ketegangan di ruangan ini, Virgy. Ia menggenggam tangan ayahnya. Tersenyum dengan mata menatap tajam.
“Wise benar… Virgy tidak perawan lagi.”
Kata-kata itu… sepertinya aku pernah mendengarnya. Ya, diucapkan olehnya juga. Tapi dengan kondisi yang berbeda. Saat itu aku menerimanya. Saat ini aku menolaknya. Saat itu aku memeluknya. Dan saat ini ayahnya menamparnya.
Mama menangis. Kakak terdiam shock. Papa memandangi Virgy dengan kecewa. Orang tua Virgy sangat marah sambil terus bertanya kenapa, kapan, siapa. Dan Virgy… masih tetap membisu memendam semua. Duduk tegap tanpa air mata. Tanpa pandangan menyesal sedikitpun.
Dan apa yang membuatmu merasa sebenar itu, sahabatku.
# # #
“Hai…” Sapaku pada seseorang yang sudah lama hilang dari kehidupanku.
“Hai, apa kabar?” Aku merentangkan tangan seolah menjawab pertanyaanya.
“Jadi… kau tinggal disini?” Ia merentangkan tangan pula seolah menjawab pertanyaanku. Kami tertawa bersamaan.
Mataku menjelajahi seisi rumah dan tertarik menuju  jendela. Angin mengganti kebisuan diantara kami.
“Jadi… kau lebih memilih disini?” Tanyaku masih tetap bersandar di jendela. Lama tak ada jawaban, sampai tak kusadari ia sudah berada di sampingku.
“Begitulah” Jawabnya tersenyum. Sama seperti dulu, ketika kalimat pemulai masalah itu muncul. Aku mendesah. Menatap matanya yang sama sekali tak memberi jawaban sama sekali.
“Kenapa…”
“Kenapa kau tak memberi tahu keluargamu, dengan siapa kau melakukan itu. Kenapa kau lebih memilih diam dan diusir orang yang kau sayang. Dan kenapa sikapmu seolah-olah bahwa ketidakperawanannu adalah benar” Nafasku memburu. Kejadian 3 bulan silam terbesit kembali di hadapanku. Aku menatap matanya. Mata yang sama dengan mata saat malam ia kehilangan keluarga, calon suami dan aku…sahabatnya.
“Kenapa…”
“Masih pentingkah itu, Wise?” Ia menatapku
“Semua sudah berlalu. Sudah  tidak berguna lagi. Kenapa, kapan dan siapa. Dulu atau sekarang. Layak diterima atau tidak. Dan perawan atau tidak” Kalimat terpanjang sejak kejadian malam itu. Penjelasan terpanjang yang juga sama sekali tidak memberiku jawaban.
“Alasan apa hingga melindunginya seperti ini” Aku masih memburu. Meminta jawaban pasti.
“Bukankah aku masih sahabatmu…”
“Yang akan menerimaku dengan kondisi apapun. Perawan atau sudah busuk seperti ini.” Kata-katanya menohok jantungku. Astagfuirullah, aku tidak bermaksud seperti itu sahabatku. Aku…tidak tahu harus menjelaskan apa padamu. Aku…
“Aku tahu itu..” Ia menggenggam tanganku.
Ahhkkk! Kepalaku berputar. Semua seperti De Javu. Mengulang ulang seperti kaset rusak. Aku seperti pesakitan dengan segala kesaksian yang memberatkan posisiku.
“Paling tidak beri aku satu alasan pasti.” Nafasku berat. Tanganku bergetar menahan semua marah, kecewa dan penyesalan.
“Beri aku alasan kuat kenapa kau setia melindungi orang itu.”
Ia sama sekali tak bersuara. Sama sekali tak bergeming. Sama sekali tidak melihatku. Lama dan sangat lama, hingga kuputuskan meninggalkannya. Kututup pintu rumahnya.
“Karena ia adalah pamanku sendiri…”
https://mail.google.com/mail/images/cleardot.gif